Pesaing Negara Tiongkok Dengan Starlink Makin Memanas Dalam Rangka Lomba Teknologi Global "Untuk Persiapan 200 Ribu Satelit, Dengan Dominasi Starlink Di Orbit"
Dalam mimpiku, kota ini tidak runtuh oleh kehancuran, melainkan berubah oleh sebuah keajaiban yang lahir dari bencana. Semuanya bermula dari langit yang terbelah oleh cahaya asing sebuah asteroid raksasa melesat menembus atmosfer, menyala seperti matahari kedua yang jatuh terlalu dekat ke bumi. Orang orang berlari, sirene meraung, dan waktu seakan berhenti tepat sebelum hantaman itu terjadi.
Namun anehnya yang tidak ada ledakan Ataupun tidak ada api yang melahap kota, tidak ada debu yang tidak bisa menenggelamkan langit. Ketika asteroid itu menghantam jantung kota, yang terdengar hanyalah dentuman dalam seperti palu raksasa yang memukul realitas, lalu keheningan mulai muncul.
Saat aku membuka mata dalam mimpi itu, kota ini telah berubah.
Jalan jalan yang dulu beraspal kini berkilauan seperti hamparan kristal. Retakan retakan di tanah memancarkan cahaya putih kebiruan, seolah bumi memperlihatkan tulang tulangnya yang terbuat dari berlian. Gedung-gedung tinggi masih berdiri, tetapi dindingnya tidak lagi kusam. Beton dan baja telah bermetamorfosis menjadi permukaan bening yang memantulkan cahaya matahari menjadi spektrum warna yang menari di udara. Asteroid itu, entah bagaimana, telah membawa lebih dari sekadar kehancuran. Ia membawa tekanan kosmik yang mustahil, panas yang melampaui logika, dan waktu yang diperas dalam satu detik abadi. Semua unsur itu bersatu, mengubah karbon kota debu, aspal, bahkan sisa sisa kehidupan menjadi berlian. Orang orang keluar dari tempat persembunyian mereka dengan langkah ragu. Wajah wajah yang semula dipenuhi ketakutan kini membeku dalam keterpanaan. Seorang anak kecil berlutut, mengambil kerikil dari tanah, dan tertawa ketika menyadari batu kecil di tangannya memantulkan cahaya seperti permata mahal. Tangis berubah menjadi senyum. Kepanikan berubah menjadi keheningan yang penuh rasa tak percaya.
Namun mimpi ini bukan tentang kekayaan.
Berlian berlian itu tidak diperebutkan. Tidak ada keserakahan, tidak ada tangan-tangan rakus. Kota ini, dalam mimpiku, seakan mengerti bahwa keindahan yang lahir dari bencana bukan untuk dimiliki, melainkan untuk disaksikan. Berlian di jalanan sama berharganya dengan berlian di istana, karena tidak ada istana dan tidak ada jurang antara kaya dan miskin. Di pusat kota, kawah asteroid berdiri seperti altar raksasa. Di dasarnya, cahaya berdenyut pelan, seolah jantung kota yang baru saja lahir. Orang orang berkumpul di sekelilingnya, bukan untuk menyembah, tetapi untuk mengingat bahwa kehancuran dan keajaiban sering kali berasal dari sumber yang sama. Dalam mimpi itu dirinya menyadari sesuatu. Kota yang bertabur berlian ini adalah cermin harapan, bahwa dari tekanan paling kejam, dari hantaman yang paling menyakitkan, sesuatu yang indah masih mungkin tercipta. Asteroid itu bukan akhir dunia, melainkan pengingat bahwa bahkan luka terdalam pun dapat memantulkan cahaya. Ketika aku terbangun, kota di luar jendela kembali seperti semula. Tidak ada berlian di jalanan. Tidak ada cahaya dari kawah kosmik. Namun mimpi itu tertinggal, berkilau di dalam ingatan dari sebuah pesan untuk harapan misalnya berlian yang sering kali lahir dari tekanan tidak akan terbayangkan.
Komentar
Posting Komentar