Kabar Terbaru Hasil Perbincangan "Amerika Serikat Akan Menghentikan Sementara Proses Visa Imigrasi Atau Imigran, Seperti Apa Dampak Yang Akan Terjadi"
Dalam tidur saya semalam indonesia berubah wajah. Bukan oleh gempa, bukan oleh perang, melainkan oleh sesuatu yang terasa jauh lebih sunyi namun mencekik: kelangkaan yang dilegalkan. Dalam mimpi itu, apa yang selama ini kita baca terjadi di Iran sanksi ekonomi, pembatasan perdagangan, mata uang melemah, dan kebutuhan pokok menjadi barang mewah, tiba tiba dialami Indonesia. Saya berdiri di sebuah minimarket. Rak minyak goreng tidak kosong, tetapi dipagari kaca seperti etalase perhiasan. Di bawah botol dua liter tertempel label harga yang membuat dahi berkerut. Bukan hanya mahal, tapi di sampingnya ada tulisan kecil: “Tersedia cicilan 6 bulan. Syarat dan ketentuan berlaku.” Saya terbangun di dalam mimpi itu dengan perasaan aneh diantara ingin tertawa dan ingin marah.
Ketika yang Biasa Menjadi Istimewa
Selama ini, minyak goreng merupakan simbol keseharian. Ia ada di dapur siapa saja, kaya atau miskin. Ia tidak pernah dipikirkan panjang. Jika habis, tinggal beli. Namun dalam mimpi itu, minyak goreng menjelma seperti barang elektronik: dipertimbangkan, dihitung cicilannya, bahkan diperdebatkan di meja keluarga. “Kalau kita cicil minyak, uang sekolah anak bagaimana?”
“Kalau tidak beli minyak, kita makan apa?”
Percakapan Seperti Ini Menjadi Lumrah.
Seperti yang dialami Iran akibat tekanan ekonomi dan keterbatasan akses perdagangan internasional, dalam mimpi tersebut Indonesia juga mengalami hal serupa. Nilai rupiah melemah tajam, impor bahan pendukung industri terganggu, distribusi tersendat, dan akhirnya harga-harga kebutuhan pokok melonjak tak masuk akal. Bukan karena Indonesia tidak punya sumber daya, tetapi karena sistemnya tercekik.
Ekonomi Bukan Sekadar Angka
Yang paling menyedihkan dalam mimpi itu bukanlah harga, melainkan perubahan sikap manusia. Minyak goreng tidak lagi dibicarakan sebagai kebutuhan dapur, melainkan sebagai simbol status. Orang memamerkan botol minyak di media sosial.
“Alhamdulillah, cicilan minyak bulan ini lunas.”
“Upgrade dari minyak curah ke minyak kemasan.”
Humor lahir dari penderitaan, karena jika tidak ditertawakan, orang akan menangis. Di pasar, pedagang kecil mengeluh karena pembeli berkurang. Gorengan yang dulu seribu dua, kini menjadi barang nostalgia. Anak-anak mengenal tempe goreng sebagai cerita masa lalu, seperti kita mendengar kisah minyak tanah.
Pelajaran Dari Sebuah Mimpi
Mimpi itu terasa absurd, tetapi justru di situlah pesannya. Apa yang kita anggap mustahil sering kali hanya sejauh satu krisis kebijakan, satu konflik geopolitik, atau satu kegagalan tata kelola. Iran bukan negara miskin sumber daya, begitu pula Indonesia. Namun ketergantungan, isolasi, dan rapuhnya sistem distribusi bisa mengubah kekayaan menjadi kelangkaan. Mimpi ini seakan mengingatkan bahwa kedaulatan pangan dan energi bukan jargon, melainkan kebutuhan nyata. Bahwa minyak goreng murah bukan hadiah alam, melainkan hasil dari kebijakan yang berpihak, sistem yang transparan, dan pengelolaan yang adil.
Terbangun Dengan Kesadaran
Ketika saya terbangun sungguhan, saya bersyukur dapur masih punya minyak goreng tanpa cicilan. Namun mimpi itu meninggalkan rasa tidak nyaman. Karena mimpi terkadang bukan ramalan, melainkan peringatan. Jika suatu hari kita harus membeli minyak goreng dengan kartu kredit, mungkin saat itu kita baru sadar bahwa krisis tidak datang dengan ledakan, tetapi dengan rak yang diberi kaca dan tulisan kecil: “Bisa dicicil.”
Komentar
Posting Komentar