Negara Yang Dipisahkan Dengan Jarak Lebih Dari 3.000 km "Apakah Sudah Menjadi Bagian Dari Satu Negara (Greenland Dan Denmark), Mari Pelajari Letak Jarak Dan Posisi Negaranya"
Selama puluhan tahun ada di dunia kecantikan dibangun di atas satu ide besar: sempurna itu indah. Kulit harus mulus tanpa pori, wajah harus simetris, tubuh harus proporsional, dan semuanya harus tampak “ideal” menurut standar tertentu. Namun, memasuki tahun 2026, paradigma itu mulai bergeser drastis. Muncullah sebuah tren baru yang disebut glitchy glam, sebuah estetika yang merayakan ketidaksempurnaan, keanehan, dan “cacat visual” sebagai sesuatu yang justru menarik. Di sinilah persaingan baru dimulai: bukan lagi tentang siapa yang paling sempurna, tetapi siapa yang paling autentik, unik, dan berani tampil berbeda.
Apa Itu Glitchy Glam?
Glitchy glam terinspirasi dari dunia digital “glitch” berarti kesalahan visual pada layar, seperti gambar rusak, warna bertabrakan, atau wajah digital yang tidak simetris. Estetika ini kemudian dibawa ke dunia nyata lewat misalkan :
Makeup yang sengaja terlihat tidak rapi atau asimetris,
Warna warna kontras yang “aneh” namun artistik,
Filter yang tidak menyempurnakan wajah, tapi justru mendistorsi,
Pose, ekspresi, dan gaya yang melawan standar kecantikan klasik.
Glitchy glam bukan tentang terlihat cantik menurut orang lain, tapi tentang menampilkan identitas visual diri sendiri, bahkan jika itu terlihat “tidak biasa”.
Persaingan Baru Dari Kesempurnaan ke Keunikan
Industri kecantikan kini menghadapi persaingan yang unik seperti :
Brand Besar dengan Kreator Independen
Merek merek besar yang dulu menjual “kulit sempurna” kini harus bersaing dengan kreator kecil yang menawarkan konsep personal, eksperimental, dan jujur. Influencer dengan wajah “tidak standar” justru lebih menarik karena terasa nyata dan dekat.
Filter Sempurna dengan Filter Jujur
Jika dulu filter memperhalus kulit dan mengubah bentuk wajah, kini muncul filter yang memperlihatkan pori, garis wajah, bahkan distorsi artistik. Kreator berlomba menciptakan filter yang paling unik, bukan yang paling mempercantik.
Kompetisi Popularitas Bergeser
Yang viral bukan lagi wajah paling flawless, melainkan konsep paling berani: wajah dengan bekas luka, freckles tebal, gigi tidak rata, ekspresi aneh, atau makeup “berantakan” yang justru terlihat artistik.
Ketika Kecantikan Tidak Lagi Menjadi Patokan Utama
Di era glitchy glam, nilai seseorang tidak lagi ditentukan oleh seberapa cantik ia terlihat, tetapi oleh karena itu :
Seberapa otentik ia menampilkan dirinya,
Seberapa kuat pesan atau karakter visual yang ia bangun,
Seberapa berani ia keluar dari standar lama.
Ini membuat banyak orang yang mengutamakan generasi muda, karena merasa lebih bebas. Tidak perlu lagi mengejar standar yang mustahil dicapai. Mereka tidak lagi bersaing untuk menjadi “yang tercantik”, tapi “yang paling diri sendiri”.
Dampak Sosial dan Psikologis
Tren ini membawa dampak positif seperti :
Tekanan sosial terhadap penampilan menurun,
Rasa percaya diri meningkat, terutama bagi mereka yang dulu merasa “tidak memenuhi standar”,
Ruang ekspresi menjadi lebih luas dan inklusif.
Ada juga tantangan disaat munculnya “standar baru” tentang keunikan itu sendiri. Ketika keanehan menjadi tren, keaslian bisa berubah menjadi performa semata. Di sinilah persaingan tetap ada, hanya bentuknya yang berubah.
Era glitchy glam 2026 menandai titik balik besar dalam dunia kecantikan. Ketidaksempurnaan tidak lagi disembunyikan, tetapi dirayakan. Persaingan tidak lagi soal menjadi paling cantik, tetapi menjadi paling jujur, unik, dan berani. Mungkin inilah makna kecantikan baru bukan untuk menyenangkan mata orang lain, tetapi tentang berdamai dengan citra diri sendiri, bahkan ketika itu “glitchy”.
Komentar
Posting Komentar