Ragam Impian Dan Jurusan Bagi "Mahasiswa Baru Memulai, Jurusan Apa Saja Yang Ada Di Indonesia Menjadi Jemputan Masa Depan Mahasiswa Kedepannya"
Di balik gemuruh stadion, sorak penonton, dan kilatan lampu turnamen besar, ada satu pertarungan yang sering kali luput dari perhatian pertarungan di dalam diri seorang atlet. Menjelang Indonesia Masters, Alwi Farhan tidak hanya mempersiapkan pukulan, stamina, dan strategi permainan. Ia sedang menempuh perjalanan yang jauh lebih sunyi belajar mengendalikan emosinya sendiri.
Alwi Farhan merupakan gambaran generasi baru bulu tangkis Indonesia. Usianya masih muda, kakinya ringan, dan mimpinya besar. Namun seperti banyak atlet muda berbakat lainnya, ia pernah terjebak dalam pusaran emosi: frustrasi saat kehilangan poin mudah, amarah ketika keputusan wasit tak berpihak, atau tekanan ekspektasi yang datang dari publik dan dirinya sendiri. Semua itu pernah membuat permainannya goyah, bahkan ketika secara teknik ia berada di atas angin. Di pusat pelatnas, latihan Alwi kini terasa berbeda. Ia masih memeras keringat, masih jatuh bangun mengejar shuttlecock, tetapi ada jeda-jeda kecil yang dulu tidak ada. Jeda untuk menarik napas. Jeda untuk menenangkan pikiran. Jeda untuk mengenali apa yang ia rasakan. Baginya, ini bukan tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju kedewasaan sebagai atlet.
“Lawan terberat itu bukan yang ada di seberang net,” batinnya suatu sore, setelah sesi latihan yang melelahkan. “Tapi yang ada di kepala.” Indonesia Masters bukan sekadar turnamen bagi Alwi Farhan. Ini adalah panggung impian, tempat ia ingin membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri sejajar dengan nama-nama besar. Bermain di rumah sendiri membawa kebanggaan, tetapi juga beban. Setiap sorakan bisa menjadi energi, namun setiap kesalahan terasa berlipat ganda. Karena itu, mengontrol emosi menjadi kunci, bukan untuk mematikan perasaan, melainkan mengarahkannya.
Dalam latihannya, Alwi mulai belajar menerima kesalahan tanpa menghakimi diri sendiri. Satu smash keluar bukan akhir segalanya. Satu reli panjang yang hilang bukan alasan untuk kehilangan fokus. Ia belajar berbicara pada dirinya sendiri dengan nada yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih dewasa. Hal-hal kecil, seperti merapikan raket setelah poin hilang atau menatap ke depan alih alih ke lantai, kini menjadi ritual baru yang membantunya kembali ke momen. Impian Alwi tentang Indonesia Masters bukan hanya tentang podium atau medali. Ia membayangkan dirinya berdiri di lapangan dengan kepala tegak, hati stabil, dan pikiran jernih apa pun hasil akhirnya. Ia ingin dikenang bukan hanya sebagai pemain bertalenta, tetapi sebagai atlet yang matang, yang tahu kapan harus menekan dan kapan harus bersabar.
Dalam mimpinya di Indonesia Masters menjadi saksi perubahan itu. Bukan perubahan yang instan, melainkan hasil dari proses panjang dan kesadaran diri. Ketika poin-poin krusial datang, Alwi tidak lagi dikuasai oleh emosi. Ia menguasai emosinya. Ia bermain dengan rasa percaya, bukan ketakutan. Perjalanan Alwi Farhan masih panjang. Akan ada kekalahan, akan ada kemenangan, dan akan selalu ada tekanan. Namun jika ia terus setia pada pelajaran paling sunyi yang sedang ia pelajari hari ini, mengendalikan emosi maka impiannya bukan sekadar angan. Ia sedang membangunnya, satu napas dalam, satu poin demi satu poin, menuju masa depan bulu tangkis Indonesia.
Komentar
Posting Komentar