Pesaing Negara Tiongkok Dengan Starlink Makin Memanas Dalam Rangka Lomba Teknologi Global "Untuk Persiapan 200 Ribu Satelit, Dengan Dominasi Starlink Di Orbit"
Di tengah dinamika panen dan fluktuasi harga gabah, kebijakan pemerintah untuk menyerap gabah petani tanpa membedakan kualitas kembali menjadi perbincangan hangat. Menteri Pertanian (Mentan) menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis yang berpihak pada petani, terutama petani kecil yang selama ini paling rentan terhadap permainan harga di tingkat lapangan. Dalam berbagai kesempatan, Mentan menegaskan bahwa kebijakan serap gabah semua kualitas bukan sekadar urusan stok pangan nasional, tetapi juga soal keadilan ekonomi bagi petani. Selama ini, banyak petani mengeluhkan harga gabah yang jatuh saat panen raya, terutama ketika kualitas gabah dinilai rendah akibat faktor cuaca, pascapanen, atau keterbatasan sarana pengeringan. “Petani tidak boleh terus dirugikan hanya karena standar kualitas yang sulit mereka penuhi,” kurang lebih demikian pandangan Mentan. Menurutnya, negara harus hadir untuk memastikan hasil panen petani tetap terserap dengan harga yang layak.
Mengurangi Tekanan Tengkulak
Salah satu keuntungan utama dari kebijakan ini, menurut Mentan, adalah berkurangnya ketergantungan petani pada tengkulak. Dalam praktiknya, tengkulak kerap membeli gabah dengan harga rendah, terutama jika kualitas gabah dianggap tidak memenuhi standar tertentu. Petani sering kali tidak punya pilihan lain karena gabah harus segera dijual. Dengan adanya penyerapan gabah semua kualitas oleh Bulog atau lembaga yang ditugaskan pemerintah, posisi tawar petani menjadi lebih kuat. Petani memiliki alternatif pembeli yang jelas dan harga yang relatif lebih stabil.
Pendapatan Petani Lebih Terjamin
Mentan juga menilai kebijakan ini berdampak langsung pada kepastian pendapatan petani. Saat semua gabah diserap, petani tidak perlu khawatir hasil panennya tidak laku atau dihargai terlalu murah. Ini penting, terutama bagi petani kecil yang modal tanamnya terbatas dan sangat bergantung pada hasil panen untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Kepastian serapan dinilai mampu mendorong semangat petani untuk terus menanam padi dan menjaga luas lahan sawah. Dalam jangka panjang, hal ini mendukung ketahanan pangan nasional.
Tantangan Tetap Ada
Meski dinilai menguntungkan, Mentan juga tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan. Penyerapan gabah semua kualitas membutuhkan anggaran besar, kesiapan gudang, serta sistem pengolahan pascapanen yang memadai. Gabah dengan kualitas rendah memerlukan perlakuan khusus agar tetap bisa diolah menjadi beras yang layak konsumsi. Karena itu pihak Mentan mendorong perbaikan sistem dari hulu ke hilir, termasuk peningkatan fasilitas pengeringan, modernisasi penggilingan padi, dan pendampingan petani agar kualitas gabah tetap meningkat.
Kebijakan Berpihak, Bukan Memanjakan
Menariknya, Mentan menekankan bahwa kebijakan ini bukan berarti memanjakan petani tanpa mendorong perbaikan kualitas. Justru sebaliknya, serapan gabah semua kualitas dijadikan jaring pengaman, sambil pemerintah terus membina petani agar praktik budidaya dan pascapanen semakin baik. Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap petani merasa aman secara ekonomi, namun tetap termotivasi untuk meningkatkan produktivitas dan mutu hasil panen.
Secara keseluruhannya menurut Mentan, kebijakan serap gabah semua kualitas merupakan langkah konkret negara dalam melindungi petani dan menjaga stabilitas pangan. Meski pelaksanaannya tidak lepas dari tantangan, kebijakan ini dinilai lebih adil dan berpihak pada kondisi riil petani di lapangan. Bagi petani itu kebijakan bukan hanya soal harga, tetapi juga soal rasa aman dan pengakuan atas kerja keras mereka. Dan bagi pemerintah, ini adalah investasi jangka panjang demi ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.
Komentar
Posting Komentar