Yang Bisa Di Pelajari Dari "Cerita UMKM Binaan BRI Bisa Menghidupkan Wastra Lewat Koleksi Busana Perkantoran"
Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya. Dalam tidur yang gelisah, Jawa Barat hadir sebagai sebuah ruang besar penuh angka, grafik, dan wajah-wajah cemas. Di tengah ruang itu, sebuah laporan tebal terbuka di atas meja kayu panjang. Sampulnya bertuliskan: Data KPAI. Ketika halaman demi halaman dibuka, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk yang menyesakkan. Dua belas ribu kasus keracunan MBG tercatat rapi, dingin, dan tak terbantahkan.
Dalam mimpi tersebut, Provinsi Jawa Barat digambarkan seperti seorang penjaga yang lengah. Program MBG yang seharusnya menjadi simbol kepedulian dan harapan bagi anak-anak justru menjelma menjadi sumber kecemasan massal. Angka “12.000” berulang kali muncul di layar layar besar, berkedip merah seperti peringatan bahaya. Setiap angka bukan sekadar statistik, melainkan bayangan anak-anak yang terbaring lemah, sekolah yang sunyi, dan orang tua yang menunggu dengan doa yang tak putus. KPAI dalam hal itu, hadir sebagai suara nurani. Lembaga tersebut tidak marah, tetapi tegas dan sedih. Data yang diserahkan bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyadarkan. Namun bagi Jawa Barat, menerima data itu terasa seperti dihantam gelombang besar. Gedung-gedung pemerintahan dalam mimpi tampak retak, bukan oleh gempa, melainkan oleh rasa lalai dan penyesalan.
Suasana semakin berat ketika mimpi membawa kita ke dapur-dapur besar penyedia MBG. Panci-panci raksasa mengepul, tetapi uapnya berubah warna menjadi kelabu. Para pekerja bergerak tergesa, seolah dikejar waktu dan target, bukan kualitas dan keselamatan. Di sudut ruangan, jam berdetak keras simbol bahwa sesuatu telah terlewatkan beberapa pengawasan, kehati-hatian, dan tanggung jawab. Mimpi itu tidak berhenti pada gambaran kekacauan. Ia berubah menjadi ruang sidang sunyi, tempat pertanyaan pertanyaan besar bergema tanpa jawaban. Bagaimana program baik bisa berujung buruk? Di mana mata yang seharusnya mengawasi? Mengapa peringatan kecil diabaikan hingga membesar menjadi ribuan kasus? Tidak ada teriakan, hanya keheningan yang menyakitkan.
Yang paling menggetarkan adalah ketika mimpi memperlihatkan wajah anak anak. Mereka tidak berbicara, hanya menatap. Tatapan itu bukan kemarahan, melainkan kebingungan mengapa sesuatu yang diberikan atas nama kebaikan justru membawa sakit? Pada saat itulah mimpi terasa sangat nyata, seolah ingin menegaskan bahwa kebijakan publik, betapapun mulianya niat, selalu menyentuh tubuh dan masa depan manusia nyata. Menjelang akhir mimpi, hujan turun di seluruh Jawa Barat. Bukan hujan bencana, melainkan hujan kesadaran. Angka angka perlahan memudar, digantikan oleh satu kata besar: Evaluasi. Mimpi seakan berbisik bahwa mimpi buruk ini tidak hadir untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa data, tanggung jawab, dan keselamatan anak tidak boleh menjadi hal yang datang terlambat. Ketika terbangun, mimpi itu masih melekat. Ia meninggalkan rasa tidak nyaman, tetapi juga sebuah pesan jelas: mimpi buruk hanya akan menjadi nyata jika peringatan diabaikan. Sebaliknya, jika disadari dan dipelajari, ia bisa menjadi awal dari mimpi yang lebih baik tentang perlindungan, berhati hati, dan masa depan anak anak yang benar benar aman.
Komentar
Posting Komentar