Bagi Orang Tua Wajib Tahu "Kebiasaan Anak Jangan Disepelekan, Bisa Memicu Cacingan Untuk Memahami Hal Ini"
Pandeglang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan hamparan sawah yang luas dan menjadi tumpuan hidup ribuan petani. Sawah sawah hijau yang biasanya menjadi simbol harapan dan kesejahteraan, kini justru berubah menjadi mimpi buruk. Banjir yang melanda wilayah tersebut telah merendam lahan pertanian seluas 4.794 hektar, meninggalkan kesedihan mendalam bagi para petani.
Air yang meluap tak hanya menenggelamkan tanaman padi, tetapi juga menghapus harapan panen yang selama berbulan-bulan dirawat dengan penuh ketekunan. Banyak petani mengaku tak berdaya melihat sawah mereka terendam, sementara usia tanaman yang hampir panen terancam gagal total. Bagi mereka, sawah bukan sekadar lahan, melainkan sumber kehidupan keluarga. Dampak banjir ini diperkirakan sangat besar. Selain kerugian materi akibat rusaknya tanaman, petani juga harus menanggung beban biaya tanam ulang dan ketidakpastian pendapatan. Jika kondisi ini berlarut larut, bukan tidak mungkin akan memicu masalah sosial dan ekonomi di pedesaan, mulai dari menurunnya daya beli hingga meningkatnya utang petani.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sektor pertanian sangat rentan terhadap bencana alam. Diperlukan perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun pusat, untuk mencari solusi jangka panjang. Perbaikan sistem irigasi, normalisasi sungai, serta bantuan cepat bagi petani terdampak menjadi langkah penting agar mimpi buruk ini tidak terus berulang. Para petani Pandeglang berharap, setelah banjir surut, akan ada uluran tangan dan kebijakan nyata yang membantu mereka bangkit kembali. Mereka ingin sawah yang kini terendam air kembali menghijau, dan mimpi tentang panen melimpah dapat terwujud, bukan sekadar menjadi kenangan pahit akibat banjir.
Komentar
Posting Komentar