Area Segitiga Kematian Di Wajah "Jangan Sembarang Di Pencet, Mari Kita Pelajari kenapa tidak Boleh. Ini Alasan Dari Medis"

Gambar
  Jerawat memang sering membuat kita tergoda untuk memencetnya, terutama saat sudah merah dan membengkak. Namun, ada satu area di wajah yang sangat berisiko jika kita memencet jerawatnya, yaitu area yang dikenal sebagai “segitiga kematian” atau danger triangle pada wajah. Area ini meliputi dahi bagian atas, hidung, dan sekitar bibir atas membentuk segitiga. Apa Itu Segitiga Kematian? Segitiga kematian merupakan istilah medis untuk daerah wajah yang darahnya langsung terhubung ke pembuluh darah dalam otak melalui vena vena tanpa katup. Vena vena ini mengalir ke sinus kavernosus, yaitu ruang vena di dasar otak yang dekat dengan otak dan saraf kranial. Karena tidak ada katup, infeksi dari kulit wajah bisa langsung menyebar ke otak. Itulah mengapa area ini disebut “segitiga kematian” bukan karena memencet jerawat akan langsung membunuh, tetapi karena infeksi serius bisa terjadi. Risiko Medis Memencet Jerawat Di Segitiga Kematian Infeksi Lokal Bisa Menjadi Parah Memencet jerawat bisa me...

Dalam Perkembangan Algoritma Juga Komunikasi Sosial "Manusia Harus Mempelajari Dunia AI Dari Smartwatch Atau Komunikasi Sosial"

 


Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) tidak lagi terbatas pada komputer dan ponsel pintar, tetapi kini telah melekat pada perangkat yang sangat dekat dengan tubuh manusia, seperti smartwatch. Jam tangan pintar bukan sekadar alat penunjuk waktu, melainkan telah menjadi media komunikasi sosial, pemantau kesehatan, asisten personal, sekaligus penghubung antara identitas manusia dan sistem algoritmik. Bagaimana mereka mempengaruhi komunikasi sosial manusia, serta bagaimana identitas manusia mulai dibentuk ulang dalam interaksi dengan AI.

Algoritma dalam Smartwatch Begini Cara Kerja Dasarnya

algoritma pada smartwatch bekerja dengan mengumpulkan, memproses, dan mempelajari data pengguna secara terus menerus. Data tersebut meliputi seperti :

Detak jantung

Pola tidur

Aktivitas fisik (langkah, olahraga, pergerakan)

Lokasi dan waktu

Pola komunikasi (notifikasi, respon cepat, kebiasaan membuka aplikasi)

Melalui machine learning, smartwatch membangun profil digital pengguna: kapan pengguna aktif, kapan lelah, kapan stres, kapan membutuhkan pengingat, bahkan kapan sebaiknya tidak diganggu. Dengan demikian, algoritma bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga bersifat interpretatif. Mereka "menafsirkan" perilaku manusia ke dalam bentuk data.

Smartwatch sebagai Media Komunikasi Sosial

Smartwatch mengubah cara manusia berkomunikasi seperti :

Notifikasi instan membuat komunikasi menjadi lebih cepat, singkat, dan terus-menerus,

Respon sosial sering terjadi dalam bentuk simbol (emoji, getar, klik cepat),

Kehadiran sosial menjadi always connected tetapi tidak selalu deeply connected.

Komunikasi yang dahulu bersifat sadar dan intens kini menjadi fragmentaris dan otomatis. Jam tangan bergetar → pengguna melihat → merespon → selesai. Ini menciptakan budaya komunikasi mikro (micro-communication).

Identitas Digital Dari Manusia Sebagai Profil Algoritmik

dalam dunia AI, identitas manusia tidak hanya berupa nama, wajah, dan kepribadian, tetapi juga berupa misalkan :

Pola aktivitas,

Ritme biologis,

Preferensi perilaku,

Kebiasaan komunikasi.

Smartwatch membentuk identitas algoritmik, dari versi digital dari manusia yang digunakan sistem untuk memprediksi tindakan yang mengakibatkan manusia mulai melihat dirinya melalui data dari “Hari ini saya sehat karena grafik saya hijau”, “Saya kurang tidur karena grafik saya merah”. Identitas subjektif ("saya merasa") mulai bergeser menjadi identitas kuantitatif ("data saya menunjukkan").

Dampak Sosial dan Psikologis

Dampak positif yang di hadapi :

Meningkatkan kesadaran kesehatan,

Membantu pengaturan waktu dan produktivitas,

Membantu komunikasi cepat dalam situasi darurat.

Dampak negatif yang di hadapi :

Ketergantungan pada notifikasi dan validasi digital,

Kecemasan terhadap data (obsesi angka kesehatan),

Pengurangan refleksi diri non digital,

Privasi dan kontrol data menjadi isu besar.

manusia perlahan bernegosiasi dengan mesin tentang siapa dirinya: apakah saya lelah karena saya merasa lelah, atau karena jam saya mengatakan saya lelah?

Masa Depan Akan Koeksistensi Manusia dan Algoritma

kedepannya hubungan manusia dan smartwatch akan semakin intim. AI akan semakin mampu membaca emosi, stres, bahkan niat. Tantangannya bukan hanya teknologi, tetapi siapa yang mengontrol data, siapa yang menentukan makna, dan siapa yang memiliki identitas kita? Manusia tidak boleh menjadi sekadar objek data. Smartwatch seharusnya menjadi alat bantu refleksi, bukan alat definisi diri. Smartwatch dengan AI bukan sekadar perangkat teknologi, tetapi aktor sosial baru yang mempengaruhi cara manusia berkomunikasi, memahami diri, dan membangun identitas. Algoritma bukan netral. Mereka membawa nilai, asumsi, dan logika tertentu yang ikut membentuk realitas sosial kita. Oleh karena itu, mempelajari algoritma dalam smartwatch berarti mempelajari ulang hubungan manusia dengan teknologi, data, dan bahkan dengan dirinya sendiri.


Komentar

Postingan Populer

Siapakah Merajai ASEAN Dalam Persaingan Penjualan Mobil "Persaingan Kedua Negara Memanas Dalam Market Penjualan, Kalau Bukan Indonesia Dan Malaysia"

Respon Dari Perbincangan Pramono Dengan Presiden Indonesia "Wacana Tim Khusus Penanganan Banjir, Menurut Pramono"

Harapan Dan Impian Untuk Kota Gaza "Dari Puing Ke Gedung Pencakar Langit Oleh Amerika Serikat"

Menekankan Keputusan Dan Sikap "Menteri ESDM Yang Menilai Target Lifting 1,6 juta Barel Tidak Realistis, Sementara Angka 800 sampai 900 Ribu Barel Kemungkinan Masih Bisa Target Lifting"

Rekomendasi Dari Para Ahli "Memiliki Kulit Glowing Alami Keinginan Kita Semua, Tapi Kita Harus Pahami Dahulu Makanan Yang Konsumsi Apa"

Peringatan Untuk Menkes Soal Kegemukan "Sering Diabaikan Bisa Risiko Fatal, Untuk Tujuan Hidup Sehat"

Janji Dan Mimpi Dalam Perjuangan "Ditengah Krisis Tantangan Global, Dalam Janji Kemerdekaan"