Dari Istilah Tall, Grande, Dan Venti Di Starbucks "Mari Pahami Dahulu Biar Kita Tahu Istilah Itu, Juga Sebelum Kebingungan"
Kronologi Penyebab Ekspansi Starlink
Starlink, jaringan satelit internet berorbit rendah (LEO) yang dikembangkan oleh SpaceX milik Elon Musk, telah menjadi fenomena global dalam beberapa tahun terakhir. Dengan ribuan satelit yang sudah mengorbit dan rencana jutaan unit lagi di masa depan, layanan ini menjanjikan konektivitas internet cepat bahkan di wilayah terpencil. Ekspansi ini tidak hanya berdampak pada sektor teknologi, tapi juga masuk ke ranah kepentingan keamanan dan persaingan geopolitik.
Kekhawatiran Tiongkok di PBB
Baru baru ini wakil Tiongkok menyampaikan kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahwa pertumbuhan tak terkendali konstelasi satelit komersiall, terutama Starlink atau menimbulkan “tantangan keselamatan dan keamanan yang nyata”. Mereka mengkritik kekurangan regulasi internasional yang efektif terhadap proliferasi satelit seperti Starlink, yang menurut mereka dapat “mengacaukan sumber daya orbit dan frekuensi bersama” serta memperbesar risiko tabrakan antar satelit.
Tiongkok juga mengklaim bahwa Starlink sempat melakukan pendekatan yang terlalu dekat dengan stasiun luar angkasa Tiongkok, memaksa operator Tiangong melakukan manuver penghindaran.
Kekhawatiran ini didorong oleh fakta bahwa satelit komersial kini semakin sering digunakan dalam konteks militer, baik untuk komunikasi taktis maupun intelijen sesuatu yang menurut Beijing dapat mempercepat perlombaan senjata di luar angkasa. South China Morning Post
Pandangan Tiongkok Untuk Starlink Bukan Sekadar Komersial
Bagi tiongkok starlink bukan hanya layanan internet komersial. Jaringan ini dipandang mampu memberikan keuntungan militer bagi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, seperti yang terlihat dalam konflik di Ukraina, di mana jaringan tersebut membantu komunikasi medan perang. Ketergantungan militer di satu jaringan yang dikendalikan oleh entitas swasta asing dapat dianggap sebagai kerentanan strategis. Itulah sebabnya beberapa peneliti di Tiongkok bahkan mengeksplorasi langkah ofensif dan defensif, termasuk teknologi laser atau satelit dengan kemampuan mengganggu untuk “menetralkan” potensi dominasi Starlink di orbit.
Balasan Diplomatik dan Strategi Regulasi
Respons tiongkok terhadap dominasi Starlink tidak hanya retorika di PBB. Negeri Tirai Bambu sendiri melarang operasi Starlink di wilayahnya, dengan ketat menegakkan rezim keamanan dan kontrol internet yang ketat. Starlink juga tidak berlisensi di Tiongkok, sehingga secara efektif tidak boleh beroperasi di pasar domestik. Selain itu, Beijing ikut serta dalam formasi diplomatik yang lebih luas bersama Rusia dan negara-negara lain untuk menekan dominasi konstelasi satelit berbasis AS dengan klaim bahwa jaringan tersebut melanggar kedaulatan negara serta digunakan untuk kegiatan kriminal atau terorisme.
Persaingan Teknologi Tiongkok Dengan Starlink
Kekhawatiran tersebut juga mendorong Tiongkok mempercepat rencana peluncuran mega konstelasi satelit broadband miliknya sendiri, yang akan menyaingi Starlink dalam cakupan global. Program seperti Qianfan (G60) yang didukung oleh negara ditargetkan untuk meluncurkan puluhan ribu satelit pada dekade berikutnya, dengan tujuan menyediakan akses global serta memperkuat kemandirian teknologi luar angkasa tiongkok.
Dampak pada Tata Kelola Luar Angkasa Internasional
Kasus ini menyoroti tantangan besar dalam tata kelola luar angkasa, bagaimana mengatur proliferasi konstelasi satelit komersial yang superbesar, yang berpotensi menimbulkan risiko bagi keselamatan orbital dan kedaulatan nasional. Diskusi di forum seperti PBB dan Uni Internasional Telekomunikasi (ITU) kini semakin menekankan pentingnya aturan yang jelas terkait lalu lintas orbital, pembagian frekuensi, dan transparansi operasi satelit global.
Persaingan antara Starlink dan Tiongkok bukan sekadar urusan bisnis atau komunikasi. Ia mencerminkan konflik strategis yang lebih besar antara kekuatan global dalam era era baru teknologi luar angkasa. Bagi tiongkok, dominasi Starlink oleh entitas yang berbasis di Amerika Serikat sekaligus berpotensi digunakan dalam operasi militer adalah ancaman nyata, yang mulai diperjuangkan melalui diplomasi internasional, regulasi orbital, dan pengembangan alternatif domestik. Sementara itu, di PBB dan forum internasional lainnya, diskusi mengenai aturan luar angkasa yang adil dan aman menjadi semakin penting seiring dengan semakin ramai dan kompleksnya langit orbit Bumi.
Komentar
Posting Komentar